Pernahkah mendengar cerita legenda Tangkuban Perahu? atau mungkin mitos Yunani atau nordik yang ada di film atau novel? dalam hal tersebut, diambil dari suatu folklor yang diwarisi dan dijadikan referensi dalam cerita kebudayaan tertentu. Namun, apa itu folklor? dan dengan blog ini, saya akan menjelaskan apa itu dari objek tersebut.
Secara harafiah folklor diambil dari 2 kata majemuk bahasa inggris yaitu folk dan lore. Jika diartikan akan
menjadi sebagai berikut menurut Alan Dundes:
·
Folk
= sekelompok orang yang memiliki ciri khas tertentu yang membedakan dengan
kelompok lainnya
·
Lore = kebudayaan
dari folk tersebut yang diwariskan
secara turun menurun secara isyarat maupun lisan
Jadi kesimpulannya, folklor adalah
kebudayaan manusia(kolektif) dari rakyat zaman dahulu yang telah diwariskan
secara turun menurun, secara lisan maupun isyarat.
Folklor sering diidentikkan
dengan tradisi dan kesenian yang berkembang pada zaman sejarah dan telah
menyatu dalam kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat Indonesia, setiap
daerah, kelompok, etnis, suku, bangsa, golongan agama masing-masing telah mengembangkan
folklornya sendiri-sendiri sehingga di Indonesia terdapat aneka ragam folklor.
Selain di Indonesia, folklor juga ada di luar negeri seperti folklor
Yunani yang biasanya terkenal mengisahkan mitos Yunani seperti kisah dewa dewi
Yunani, folklor Jepang yang mengisahkan cerita rakyat Jepang seperti kisah
Momotaro, dan lain sebagainya.
Pada umumnya folklor itu tidak diketahui siapa yang membuatnya atau
anonim. Biasanya tersebar secara mulut ke mulut sehingga terkenal dan digunakan
untuk hiburan umum. Bahkan folklor itu bersifat tradisional dan berkesan lugu
agar para pembaca dan penikmat bisa menangkap nilai moral dan tradisi di
dalamnya.
Sebenarnya folklor itu tidak hanya cerita rakyat saja, bisa juga
melainkan seperti legenda, mitos, upacara, dan nyanyian rakyat. Namun pada umumnya, kebanyakan orang
mengartikan folklor itu hanya cerita rakyat. Bahkan legenda, cerita rakyat,
maupun mitos itu semuanya sama. Padahal secara rinci, semua hal itu berbeda.
Tapi untuk kali ini, penulis akan menceritakan dan menjelaskan sedikit
masing-masing dari tiga jenis utama folklor yang populer di kalangan
masyarakat.
1. CERITA
RAKYAT
Cerita
Rakyat bisa disebut juga sebagai dongeng rakyat. Cerita rakyat adalah dongeng
yang dibuatkan oleh manusia khususnya orang tua yang berisikan nilai moral
didalamnya.
Bedanya
cerita rakyat dari legenda dan mitos adalah cerita rakyat TIDAK ADA hubungannya
dengan suatu tempat tertentu yang begitu sakral, maupun TIDAK ADA suatu
kepercayaan dalam suatu benda-benda atau hal sakral lainnya yang telah
diwariskan.
Isinya
hanya dongeng fiksi yang dibuat hanya sebagai pengajaran dan nilai moral pada
masyarakat sehingga isinya tradisional namun menghibur.
Contohnya
dari cerita rakyat ini adalah kisah Bawang Merah dan Bawang putih. Konsep
ceritanya sebenarnya seperti cerita rakyat di eropa yaitu Cinderella, namun
yang ini lebih kearifan lokal.
-----Bawang Merah dan Bawang Putih-----
Dahulu kala, ada sebuah keluarga yang
hidup bahagia. Mereka memiliki seorang puteri yang diberi nama bawang putih.
Namun pada suatu hari, ibu bawang putih jatuh sakit dan akhirnya meninggal.
Setelah kejadian itu, bawang putih hidup sendiri dengan ayahnya. Ayah bawang
putih adalah seorang pedagang yang sering bepergian jauh. Karena tak tega
meninggalkan bawang putih sendirian di rumah, akhirnya ayah bawang putih
memutuskan menikah lagi dengan seorang janda. Janda tersebut memiliki satu anak
yang diberi nama bawang merah.
Sebenarnya niat ayahnya adalah agar
bawang putih tak kesepian dan memiliki teman yang membantunya di rumah. Namun
ternyata, ibu dan kakak tiri bawang putih memiliki sifat yang jahat. Mereka
bersikap baik pada bawang putih hanya ketika ayahnya ada bersamanya. Namun
ketika ayahnya pergi berdagang, mereka menyuruh bawang putih mengerjakan segala
pekerjaan rumah seperti seorang pembantu. Ternyata kemalangan bawang putih
belum berhenti sampai disitu, selang beberapa waktu, ayah bawang putih juga
jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Kini, ibu tiri dan bawang merah bersikap semakin
jahat pada bawang putih. Bahkan waktu beristirahat bawang putih juga semakin
terbatas. Tiap hari dia harus melayani semua kebutuhan bawang merah dan ibu
tirinya. Sampai disuatu pagi ketika bawang putih mencuci di sungai, tanpa
disadari salah satu selendang kesayangan bawang merah hanyut. Ketika sampai
rumah, bawang merah memarahi bawang putih karena selendangnya tak dia temukan.
Dia menyuruh bawang putih mencari selendang itu dan tidak boleh pulang sebelum
menemukanya.
Akhirnya, bawang putih menyusuri sungai
untuk mencari selendang itu. Hingga larut malam, selendang itu belum juga dia
temukan. Ketika tengah menyusuri sungai, bawang putih nelihat sebuah gubuk,
ternyata gubuk itu dihuni oleh seorang nenek sebatang kara. Bawang putih
akhirnya meminta izin untuk menginap semalam.
Nenek itu cukup baik hati, dia
mempersilahkan bawang putih untuk menginap. Nenek itu juga menanyakan perihal
tentang bawang putih, dan bagaimana dia sampai di tempat itu. Bawang putih pun
menceritakan nasib yang dialaminya, hingga nenek yang mendengar itu merasa iba.
Ternyata, selendang yang dicari bawang putih ditemukan oleh si nenek. Dan nenek
itu mau menyerahkan selendang itu dengan syarat bawang putih harus menemaninya
selama seminggu. Bawang putih menerima tawaran itu dengan senang hati.
Waktu seminggupun berlalu, dan kini waktunya
bawang putih untuk pulang. Karena selama tinggal disitu bawang putih sangat
rajin, nenek itu memberikan selendang yang dulu dia temukan dan memberi hadiah
pada bawang putih. Dia disuruh memilih diantara dua buah labu untuk dia bawa.
Awalnya bawang putih ingin menolak, namun karena ingin menghormati pemberian,
bawang putih akhirnya memilih labu yang kecil dengan alasan takut tak kuat
membawanya. Dan nenek itu hanya tersenyum mendengar alasan itu.
Setelah itu, bawang putihpun segera pulang dan
menyerahkan selendang itu pada bawang merah. Setelah itu dia segera ke dapur
untuk membelah labu dan memasaknya. Namun betapa terkejutnya dia, karena ketika
labu itu dibelah, ternyata labu itu berisi emas permata yang sangat banyak. Secara
tak sengaja, ibu tiri bawang putih melihatnya dan langsung merampas semua emas
itu. Bukan hanya itu, dia juga memaksa bawang putih untuk menitakan dari mana
dia mendapat labu ajaib itu. Bawang putihpun menceritakan semua kejadian yang
dialaminya.
Mendengar cerita bawang putih, muncul niat jahat
di benak ibu tiri yang serakah itu. Esok paginya, dia menyuruh bawang merah
untuk melakukan hal yang sama seperti yang silakukan bawang putih, dia berharap
akan bisa membawa pulang labu yang lebih besar sehingga isinya lebih banyak.
Singkat cerita, bawang merah yang malas itu tiba
di gubuk nenek, dan diapun tinggal disitu selama seminggu. Namun karena
sifatnya yang pemalas, dia hanya bermalas-malasan saja dan tidak mau membantu
pekerjaan si nenek. Dan ketika sudah waktunya pulang, diapun di suruh memilih
labu sebagai hadiah. Tanpa fikir panjang, dia langsung mengambil labu yang
besar dan segera berlari pulang tanpa mengucapkan terimakasih.
Setelah tiba dirumah, ibunya sangat senang
melihat anaknya membawa labu yang sangat besar. Dia berfikir pasti emas di
dalamnya cukup banyak. Karena tak ingin diketahui oleh bawang putih dan takut
jika bawang putih minta bagian, mereka menyuruh bawang putih mencuci disungai.
Setelah itu mereka masuk kamar dan menguncinya dengan rapat.
Dengan tak sabar, mereka segera membelah labu
itu. Namun diluar dugaan, bukan emas yang ada didalamnya. Melainkan labu itu
dipenuhi ular, kalajengking, kelabang, dan berbagai hewan berbisa. Dengan cepat
hewan-hewan itu keluar dari labu dan menggigit kedua anak dan ibu serakah itu.
Mereka tak mampu kabur, karena pintu kamar mereka kunci rapat dan mereka tutup
dengan lemari dari dalam. Akhirnya, mereka mati di dalam kamar bersama
keserakahan mereka. Setelah mereka mati, hewan-hewan berbisa itu kenyap tak
berbekas.
Seperti
cerita diatas tadi ada nilai moral di dalamnya seperti ‘kita harus tabah’,
‘jangan sombong’ dan sebagainya. Bahkan sebenarnya salah satu cerita rakyat ini
memiliki beberapa versi. Penulis pribadi pernah menonton video animasi di
youtube tentang Bawang Merah dan Bawang Putih juga, namun yang saya tonton Bawang
Putih itu saat mencari selendang Bawang Merah, dia malah bertemu dengan Ikan
ajaib ketimbang dengan Nenek-nenek (namun sayangnya Ikannya dimasak oleh Bawang
Merah dan ibu tirinya). bahkan, akhir dari cerita ini Bawang Putih menikah
dengan seorang pangeran.
Memiliki
versi yang beragam juga termasuk ciri-ciri dari cerita rakyat maupun legenda
atau mitos lainnya.ang ini lebih
kearifan lokal. adisional namun mengh
2. LEGENDA
Secara
harafiah, Legenda diambil dari bahasa latin yaitu Legere. Legenda adalah prosa rakyat yang dipercaya memiliki cerita
yang benar-benar terjadi dan berkembang di suatu daerah. Legenda biasanya
diambil dari kisah suatu tempat tertentu dan dibikin asal muasalnya dalam
bentuk cerita yang bermoral.
Legenda
sering kali dianggap sebagai cerita ‘sejarah’ kolektif. Walaupun tersebar
secara tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehinga
beda jauh dengan kisah aslinya. Oleh karena itu, jika legenda dipergunakan
sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah, maka legenda harus dibersihkan dari
unsur-unsur folklor-nya terlebih dahulu.
Sebenarnya
bedanya dari legenda dari mitos dan cerita rakyat itu tersendiri adalah legenda
biasanya mengisahkan asal muasal suatu tempat atau objek dengan dramatis dan
menghibur. Tidak ada unsur sakral seperti mitos maupun suatu kepercayaan
tertentu yang diwarisi turun menurun. Nilai moral di dalam legenda ini
tetap ada layaknya seperti cerita rakyat.
Seperti contohnya cerita legenda yang berdasarkan
suatu tempat di Sumatera Utara yaitu Danau Toba dibawah ini.
-----Legenda Danau Toba-----
Pada
zaman dahulu di suatu desa di Sumatera Utara hiduplah seorang petani bernama
Toba yang menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu
mengerjakan lahan pertaniannya untuk keperluan hidupnya.
Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang
lelaki itu pergi memancing ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap
kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya karena di sungai yang jernih itu
memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.
Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang
lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tetapi sudah cukup lama ia
memancing tak seekor iakan pun didapatnya. Kejadian yang seperti itu,tidak
pernah dialami sebelumnya. Sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia
pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada yang memakan umpan pancingnya, dia
jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing. Tetapi ketika dia
hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan yang langsung
menarik pancing itu jauh ketengah sungai. Hatinya yang tadi sudah kesal berubah
menjadi gembira, Karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu
adalah ikan yang besar.
Setelah beberapa lama dia biarkan
pancingnya ditarik ke sana kemari, barulah pancing itu disentakkannya, dan
tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali
pancingnya. Dengan cepat ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas.
Sambil tersenyum gembira mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Pada
saat dia sedang melepaskan mata pancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan
penuh arti. Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun
masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena belum
pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil membayangkan betapa
enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah dipanggang. Ketika meninggalkan
sungai untuk pulang kerumahnya hari sudah mulai senja.
Setibanya di rumah, lelaki itu langsung
membawa ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur. Ketika dia hendak
menyalakan api untuk memanggang ikan itu, ternyata kayu bakar di dapur rumahnya
sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong
rumahnya. Kemudian, sambil membawa beberapa potong kayu bakar dia naik kembali
ke atas rumah dan langsung menuju dapur.
Pada saat lelaki itu tiba di dapur, dia
terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat
ikan itu tadi diletakkan tampak terhampar beberapa keping uang emas. Karena
terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan dapur dan
masuk kekamar.
Ketika lelaki itu membuka pintu kamar,
tiba-tiba darahnya tersirap karena didalam kamar itu berdiri seorang perempuan
dengan rambut yang panjang terurai. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya
sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat
kemudian perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu
yang tegak kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat
terpesona karena wajah perempuan yang berdiri dihadapannya luar biasa
cantiknya. Dia belum pernah melihat wanita secantik itu meskipun dahulu dia
sudah jauh mengembara ke berbagai negeri.
Karena hari sudah malam, perempuan itu
minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia diajak
perempuan itu menemaninya kedapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka.
Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah
penjelmaan dari ikan besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di
sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang
terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya. Setelah beberapa minggu
perempuan itu menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu
harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal
usul istrinya myang menjelma dari ikan. Setelah lelaki itu bersumpah demikian,
kawinlah mereka.
Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang
anak laki-laki yang mereka beri nama Samosir. Anak itu sangat dimanjakan
ibunya yang mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas.
Setelah cukup besar, anak itu disuruh
ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun,
sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksa ibunya yang
mengantarkan nasi ke ladang.
Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi
mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi,
karena terus dipaksa ibunya, dengan kesl pergilah ia mengantarkan nasi itu. Di
tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauknya dia makan. Setibanya
diladang, sisa nasi itu yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya.
Saat menerimanya, si ayah sudah merasa sangat lapar karena nasinya terlambat
sekali diantarkan. Oleh karena itu, maka si ayah jadi sangat marah ketika
melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah sisa-sisa. Amarahnya makin
bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar dari
nasinya itu. Kesabaran si ayah jadi hilang dan dia pukul anaknya sambil
mengatakan: “Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak
keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”
Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui
ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua
kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya di ceritakan pula. Mendengar
cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah
melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya
itu. Si ibu menyuruh anaknya agar segera pergi mendaki bukit yang terletak
tidak begitu jauh dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang
terdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan
perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.
Ketika tampak
oleh sang ibu anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya
di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya
dari rumah mereka itu. Ketika dia tiba di tepi sungai itu kilat menyambar
disertai bunyi guruh yang megelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam
sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai
itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu
kemudian, air sungai itu sudah meluap kemana-mana dan tergenanglah lembah
tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati
tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan
berubah menjadi danau yang sangat besar yang di kemudian hari dinamakan orang
Danau Toba. Sedang Pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.
Jika
dikonversikan kedalam ilmiah, sebenarnya Danau toba itu berawal dari gunung
berapi super yang meletus kurang lebih ribuan tahun yang lalu. Bahkan gunungnya
sudah meletus dan menjadi pulau kecil ditengah danau yaitu Pulau Samosir.
Dalam folklor
yang kita baca, masih ada sedikit unsur nyatanya sesuai di dalam faktanya saat
ada bencana alam di dalam legenda Danau Toba, itu sudah mengilustrasikan
bagaimana bencana letusan gunung Toba terjadi.
3. MITOS
Mitos berasal dari kata Mythos dalam bahasa Yunani dan Mite dalam bahasa Belanda yang berarti
cerita atau perkataan. Mitos biasanya dibuatkan oleh manusia dan dianggap
sakral dan ada suatu kepercayaan, seperti kisah dewa dewi, makhluk gaib, atau
takhayul.
Yang membedakan mitos dengan
legenda dan cerita rakyat adalah mitos bisa menjadi suatu cerita yang memiliki unsur
sakral dan kepercayaan tertentu. Bahkan isinya hal yang tidak masuk akal dan
dikemas menjadi cerita yang menarik. Selain cerita, kadang mitos Sebagai suatu folklor,
mitos digunakan sebagai adat istiadat dan mempelajari budaya di masa lampau.
Selain cerita, mitos juga dibuat
menjadi suatu kepercayaan makhluk gaib atau suatu takhayul/kepercayaan belaka
sebagai suatu waspada untuk rakyat zaman dahulu hingga sekarang (walaupun tidak
banyak yang memercayainya).
Contohnya seperti anak-anak
dilarang keluar setelah maghrib. Karena nanti akan diculik makhluk gaib Wewe
gombel.
Namun mitos masih belum bisa
dibuktikan kebenarannya secara ilmiah dan cenderung mengarah ke hal yang tidak
masuk akal. Tapi, ada sebagian mitos yang benar-benar terjadi di kehidupan
nyata, tetapi menjadi cerita yang menarik.
Mitos juga seringkali dipakai oleh
budaya populer dan serial fiksi menarik sebagai referensi seperti serial novel Percy Jackson dan anime Saint Seiya yang kedua dari serial
tersebut diambil dari mitos Yunani.
Salah satu contoh dari cerita mitos
di Indonesia adalah kisah Timun Mas, isinya dalam cerita ini ada unsur kisah
makhluk gaib yang bernama Buto Ijo, seorang raksasa yang suka mengincar
anak-anak dalam kepercayaan orang Jawa.
Pada
zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah
desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja
dikaruniai seorang anak pun.
Setiap
hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi
seorang anak. Suatu hari seorang Raksasa yang bernama Buto Ijo melewati tempat tinggal mereka. Buto Ijo mendengar doa suami istri itu. Buto Ijo kemudian memberi mereka biji mentimun.
“Tanamlah
biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Buto Ijo.
“Terima
kasih, Buto Ijo,” kata suami istri itu.
“Tapi
ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut
Buto
Ijo.
Suami
istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang
mereka setuju.
Suami
istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka
merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan
kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan.
Buah
mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak,
mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa
terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang
sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu
Timun Mas.
Tahun
demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang
tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada
ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Buto Ijo menangih janji untuk
mengambil Timun Mas.
Petani
itu mencoba tenang. “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan
memanggilnya,” katanya. Petani itu segera menemui anaknya. “Anakkku, ambillah
ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu
melawan Buto Ijo. Sekarang larilah secepat
mungkin,” katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.
Suami
istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya
menjadi santapan Raksasa. Buto Ijo menunggu
cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu.
Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke
hutan.
Buto Ijo segera berlari mengejar Timun Mas. Buto Ijo semakin dekat. Timun Mas segera mengambil segenggam garam
dari kantung kainnya. Lalu garam itu ditaburkan ke arah Buto Ijo. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Buto Ijo terpaksa berenang dengan susah payah.
Timun
Mas berlari lagi. Tapi kemudian Buto Ijo hampir berhasil menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil
benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai. Cabai itu
dilemparnya ke arah raksasa itu. Seketika pohon
dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Buto Ijo. Buto Ijo berteriak
kesakitan. Sementara Timun Mas berlari menyelamatkan diri.
Tapi Buto Ijo sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas.
Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji
mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas. Buto Ijo sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun
yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Buto Ijo tertidur.
Timun
Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama kelamaan
tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Buto Ijo terbangun dari tidurnya. Buto Ijo lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan.
Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi
terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Buto Ijo terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun
Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Buto Ijo panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.
Timun
Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah
dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya.
“Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,” kata mereka gembira.
Sejak
saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup
bahagia tanpa ketakutan lagi.
Sumber:
http://www.sentra-edukasi.com/2011/06/pengertian-ciri-ciri-jenis-jenis-dan.html
https://sastrawacana.id/2017/07/pengertian-folklore-beserta-jenis-dan-contohnya-sastra-wacana/
http://www.sridianti.com/pengertian-mitos.html
http://www.anakcemerlang.com/2016/02/definisi-dan-pengertian-mitos.html
http://dongeng.org/asal-usul-danau-toba/
http://dongengterbaru.blogspot.co.id/2016/09/cerita-bawang-merah-bawang-putih.html
https://dongengkakrico.wordpress.com/cerita/cerita-rakyat-timun-mas/